Membangun perusahaan start up bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal menakutkan. Banyak start up yang berhasil menjadi unicorn tapi juga lebih banyak start up yang gagal dan akhirnya tutup.

Berikut ini saya akan membahas 5 tantangan supaya perusahaan start up sanggup bertahan dan bahkan menguntungkan.

Menemukan Pasar

Permasalahan pasar merupakan hal yang sangat penting sebelum membangun sebuah start up. Sebab tidak ada satupun perusahaan yang akan sanggup bertahan tanpa memiliki pasar.

Sebuah perusahaan start up harus melakukan riset pasar terlebih dahulu, terutam mencari problem yang benar-benar membuat konsumen mau mengeluarkan uang untuk membeli solusi atas masalah tersebut.

Anda harus banyak mendengar pembicaraan orang-orang, apakah sebuah produk yang akan Anda bangun adalah merupakan hal yang “baik” untuk mereka gunakan ataukah justru suatu “keharusan” untuk mereka gunakan.

Semakin mendekati keharusan, berarti semakin baik.

Perusahaan start up juga harus pandai-pandai memilih, apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk produk  yang akan dikembangkan. Sebab banyak start up yang menciptakan sebuah produk yang belum dibutuhkan pasar saat ini.

Mungkin produk itu akan dibutuhkan di masa depan, tapi saat ini pasar belum siap menerimanya. Sehingga akhirnya start up kehabisan napas untuk bertahan hingga produk tersebut benar-benar bisa diterima oleh pasar.

Tantangan berikutnya adalah Anda harus mengetahui market size untuk produk yang akan dikembangkan. Ukuran besarnya pasar, harus benar-benar memadai untuk menghidupi perusahaan start up.

Pastikan market size untuk produk yang akan Anda kembangkan memadai untuk membuat start up Anda terus berkembang.

Perlu diingat bahwa ukuran pasar yang dimaksud adalah orang-orang yang benar-benar mengalami problem berat, mau mengeluarkan uang untuk solusi atas problem tersebut dan memiliki kemampuan membayarnya.

Kesimpulan saya adalah: Berangkatlah dari pasar (market driven), bukan dari produk (product driven).

Mengukur Model Bisnis

Model bisnis yang dibuat untuk sebuah start up biasanya sudah diuji dengan sejumlah kecil pelanggan awal. Jumlah yang sangat tidak memadai untuk gambaran secara keseluruhan dari sebuah start up yang akan berjalan dalam waktu yang lama.

Biasanya pendiri start up merasa sangat optimis dengan proses akusisi pelanggan awal yang tampak mudah. Apalagi pelanggan awal tersebut berasal dari orang-orang yang dikenal, misalnya teman, saudara atau komunitas tempat ia sering melakukan aktifitas sosial.

Hal yang tidak pernah diperhitungkan biasanya adalah berapa biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan pelanggan dari kalangan orang-orang yang sama sekali tidak ia kenal.

Pertanyaan sederhanya adalah apakah Anda mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari biaya yang dibutuhkan untuk mengakuisisi pelanggan secara signifikan? Jika jawabanya “YA”, berarti model bisnis Anda sudah cukup baik untuk dijalankan. Namun jika jawabanya “TIDAK”, sudah semestinya Anda berpikir untuk beralih ke ide bisnis lain.

Dalam dunia start up kita mengenal istilah CAC (Cost of Acquiring a Customer) yakni biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu orang pelanggan. Kita juga mengenal LTV (Lifetime Value of a Customer) yakni seberapa besar nilai yang bisa kita dapatkan dari satu orang pelanggan tersebut.

Sudah semestinya nilai LTV lebih besar dari nilai CAC untuk sebuah model bisnis yang baik. Bagi Anda yang tidak memiliki modal besar, sebaiknya mampu merecovery CAC dalam waktu kurang dari 12 bulan. Ini bukanlah aturan baku, namun bisa dijadikan sebagai acuan non formal.

Perkuat Tim Manajemen

Tim manejemen perusahaan start up biasanya ditangani oleh para founder yang umumnya dari kalangan non menajemen.Kebanyakan start up teknologi didirikan oleh para programmer yang kurang memahami manajemen.Beberapa hal yang harus dilakukan oleh tim manejemen perusahaan start up adalah sebagai berikut:

  • Membuat strategi jitu dalam mengeksekusi pengembangan produk. Tim manajemen harus mampu melakukan validasi pasar sehingga yakin bahwa produk yang akan dibangun memiliki pasar yang cukup besar dan mudah dijangkau.
  • Tim manajeman juga harus mampu meng-hire orang-orang berkualitas untuk bergabung dalam tim. Sudah menjadi rumus bahwa orang dengan kualitas A dapat merekrut orang yang berkualitas B dan C. Sedangkan orang dengan kualitas B hanya akan bisa merekrut orang dengan kualitas C, karena orang berkualitas B tidak mau direkrut oleh orang yang juga berkualitas B.
  • Tim manajemen harus mampu melakukan efisiensi dalam berbagai hal, termasuk dalam hal ketepatan waktu pengerjaan dan menekan biaya-biaya. Sering kali tim manajemen tidak mampu mengeksekusi pekerjaan secara tepat waktu sehingga terjadi pembengkakan biaya diluar dugaan.
  • Tim manajemen harus mampu mengarahkan semua sumber daya untuk mencapai goal yang ditetapkan sejak awal. Penggunan sumber daya yang tidak memiliki dampak pada tercapainya tujuan awal harus segera dipangkas. Tetap fokus pada tujuan awal. Memang akan banyak hal-hal menarik dan cukup menggoda di tengah perjalanan, untuk mengalihkan perhatian tim menajemen pada goal yang telah ditetapkan. Anggap saja godaan itu sebagai gulma bagi tanaman.

Menjaga Arus Kas

Kebanyakan perusahaan start up tutup karena kehabisan uang tunai (kas). Tugas seorang CEO adalah mengatur supaya kas yang dimiliki mencukupi untuk pengembangan produk. Selain itu, seorang CEO juga harus pintar mencari sumber pendanaan untuk keberlangsungan perusahaan.

Pendanaan yang dimaksud tidak harus berupa pendanaan yang berasal dari investor, apalagi dari pinjaman bank. Tapi pendanaan yang berasal dari monetisasi produk yang sedang dikembangkan.

Strategi yang bisa dijalankan adalah tidak menunggu produk selesai secara sempurna, tapi lakukan launching secara bertahap. Produk awal dengan fitur-fitur dasar sebenarnya sudah bisa dilaunching untuk melakukan validasi pasar sekaligus untuk mendatangkan uang cash.

CEO juga harus mencari cara supaya biaya akuisisi pelanggan (CAC) cukup rendah, mengurangi keterlibatan iklan berbayar dan meningkatkan keterlibatan pelanggan untuk menjadi “bintang iklan gratis”.

Di masa-masa awal pengembangan produk, perusahaan start up belum membutuhkan banyak tenaga penjual. Rekrutmen pegawai tidak perlu diarakan untuk bagian pemasaran. Ketika produk sudah siap dipasarkan dan membutuhkan akselerasi pemasaran, barulah melakukan rekrutmen tenaga pemasaran. Hal ini juga salah satu cara untuk mengefisiensikan pengeluaran kas.

Jika model bisnis yang dibangun sudah proven, artinya sudah terukur antara biaya akuisisi pelanggan dengan pendapatan. CEO seharusnya berani menggenjot pemasaran sekuat-kuatnya dengan mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mempercepat pertumbuhan perusahaan.

Kualitas Produk

Pastikan kualitas produk sesuai dengan kebutuhan pasar, sebab seberapapun bagusnya ide produk, jika tidak diiringi dengan kualitas produk yang baik, akan sia-sia.

Sebuah start up dengan ide bisnis cemerlang, namun dalam mengeksekusi pengembangan produk banyak mengalami masalah, misalnya banyak bug, website yang berjalan sangat lambat, salah dalam menghitung angka-angka, aplikasi yang sering force close, aplikasi sulit digunakan akibat dari UI/UX yang buruk dan kendala-kendala teknis lain, tentu akan membuat pelanggan meninggalkan produk Anda.

Meskipun bukan berbasis product driven, kualitas produk harus benar-benar menjadi prasyarat dasar untuk suksesnya sebuah perusahaan start up.

Demikianlah 5 hal yang membuat perusahaan start up mampu bertahan dan bahkan sukses meraih keuntungan yang besar. Sengaja saya tidak mengupas mengenai strategi meningkatkan valuasi perusahaan untuk mendapatkan pendanaan besar dari investor.

Sudah banyak yang membahas mengenai hal tersebut, namun saya kurang tertaik membahasnya. Karena saya lebih suka dengan start up yang tumbuh secara alami berbasis dari kemampuan menghasilkan real revenue.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman riil dalam membangun startup www.war-mart.id.

Salam Start Up!!!

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *